SHABBY BLOG BACKGROUND

Friday, May 12, 2017

#28 - Makasih ya

Hari ini aku senang karena sempat nonton film di bioskop dengan 2 temanku lalu ikut acara akustikan  di jurusan. Tadi juga sempat nyoba sate Tai-Chan di Seturan. Aku ingin berterima kasih pada Tuhan, alam semesta dan kedua temanku tadi. Aku senang sempat bersantai sejenak sebelum bersibuk ria lagi besok. Doakan aku tidak sakit lagi ya!

Semakin tua, aku semakin merasa mencari waktu luang untuk bersantai bersama teman semakin sulit. Tiap orang punya kesibukannya masing-masing. Butuh usaha ekstra untuk sekedar menyisihkan waktu untuk bersenda gurau bersama. Semoga saja kebersamaan ini terus berlanjut, senang bisa merangkai shory getaway kecil-kecilan.

Thanks, A and B for spending time with me. I needed it 💕

Thursday, May 11, 2017

#27 - Empty

If tomorrow never comes
I would like to be able to say I've lived
If you never come
I wish I could stand on my own two feet
I want to survive
I want to stop feeling so empty
I will return
Once more, if tomorrow never comes

Wednesday, May 10, 2017

#26 - Sakit

Kepala pusing.
Tenggorokan kering.
Pasti sedang sakit.
Sekian.

- Jangan kena kapak bang

Monday, May 8, 2017

#24 - Sahabat

    Tiap orang pasti punya sahabat, gak kebayang hidup tanpa sahabat pasti sepi sekali. Aku juga punya sahabat, seseorang yang kupercaya. Menurutku, sahabat adalah seseorang yang menerima aku apa adanya. Sahabat adalah sosok yang tak tergantikan. Ia yang mengingatkanku apabila aku salah, kadang juga menunjukkan kebenaran yang kututup-tutupi sendiri. Sahabat tak selalu benar tapi ia jarang salah, hahaha. Sahabat tahu diriku malah kadang lebih tahu tentang aku daripada diriku sendiri. Sahabat tidak harus selalu bersama, tak jarang ruang dan waktu membatasi interaksi yang terjadi namun sahabat sejati takkan hilang. Aku masih punya sahabat dari SMA yang meski sudah bertahun-tahun tak bertemu ketika bertemu lagi obrolannya masih nyambung. Senang punya seorang sahabat yang menjadi teman bernostalgia.
    Terima kasih sahabat yang sudah setia menemaniku di berbagai situasi. Tak terbayang hidupku tanpamu, pasti sudah ambyar.

Sunday, May 7, 2017

#23 - You Shouldn't Come Back

One of those 3am thoughts.

    Hey, I'm not sorry for leaving you behind. I'm not sorry for everything that happened between us. I don't want you to come back. I like being on my own. I think it's better for us now to stay where we are, apart from each other. We finally stop hurting each other. I admit, I miss our late night phone calls but it's in the past now. I'm moving on and so should you.

   I want to say thank you, for loving me, for believing in me, and for being kind. I want to say sorry for everything I've done that hurt you. We're over.

    Once again, please don't come back. After everything, I've finally found peace. Don't come back no matter how much you miss me. I know you do, I saw it in your eyes the last time we met. You told me things you'd never tell another soul. Thank you for trusting me but I don't trust you anymore. We met for a reason. I don't demand anything from you, just don't ever come back. I know you wonder about me and I'm here to tell you that I'm fine. I'm okay, you were right when you told me I'd get through this. You know how much I like to write letters, right? I have a couple of letters addressed to you but they will never be sent because I don't want you to come back.

    I hope you're okay. I don't hate you, I just don't want to have anything to do with you anymore. We become strangers again. Goodbye.

Saturday, May 6, 2017

#22 - A Look at Indonesia, Etc.: Exploring the Improbable Nation

    Saya adalah kutu buku tapi kini saya tak yakin lagi apa saya masih menyandang status itu. Kegiatan di kampus dan luar kampus semakin menyita waktu luang saya, membuat saya semakin jarang membaca. Jujur, saya kangen seharian  membaca tanpa gangguan. Rasanya ingin kembali ke masa-masa SMP, atau SMA. Saya tidak sesibuk sekarang, saya selalu menyempatkan membaca. Entah di dalam bis kota, kol kaliurang, atau di dalam kamar, buku bacaan selalu di tangan. Kini, dengan kegiatan yang banyak, dan sosial media yang membuat saya connected  24/7 menyulitkan saya untuk mencari waktu membaca.

     Saya mengerti betul bahwa membaca itu penting, untuk memberi makan otak saya. Saya merasa bodoh apabila tidak membaca. Buku adalah sumber pengetahuan, meski sekarang orang lebih senang menggunakan internet untuk mencari informasi, saya termasuk orang yang bahagia membaca buku cetak. Hari ini saya akan menyelesaikan membaca Indonesia, Etc.: Exploring the Improbable Nation karya Elizabeth Pisani yang saya beli ketika menunggu boarding di Bandara Adisutjipto. Saya belum selesai membaca buku ini tapi isinya menarik sekali. Alasan saya terdorong membeli buku ini adalah sang penulis yang pernah memberikan Ted Talk di Indonesia (TEDxUbud). Saya suka menonton Ted Talk, dan saya tergelitik dengan Ted Talk yang diberikan oleh Elizabeth Pisani. Dalam ceritanya, Elizabeth menceritakan bagaimana budaya Indonesia sendiri sudah mewajarkan KKN (Korupsi, Kolusi, Nepotisme). Saya rekomendasikan video ini untuk Anda tonton sendiri karena isinya menarik.

Mungkinkah Anda bagian dari budaya KKN yang telah mengakar kuat di Indonesia?
Watch the video to find the answer!

Here is the video: 

The other side of corruption in Indonesia | Elizabeth Pisani | TEDxUbud

     Anyway, since I'm not done with the book, you guys should check it out too. It's really good, though I haven't finished it I could guarantee that I will probably enjoy it very much.
Read books, people. Educate yourself!


THANKS

Friday, May 5, 2017

#21 - Review Buku "Bukan Pasar Malam"

   

Buku Bukan Pasar Malam diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Balai Pustaka pada tahun 1951. Buku ini ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan asal Indonesia yang pernah mendapat nominasi Nobel bidang sastra[1]. Bukan Pasar Malam ditulis saat beliau dipenjara di Pulau Buru. Pramoedya Ananta Toer dijatuhi pidana oleh Departemen Penerangan pada Orde Baru karena karyanya dianggap berbau komunis. Beliau sempat dipenjara selama 15 tahun, dan menjadi tahanan rumah, hingga akhirnya saat Reformasi beliau dibebaskan. Bukan Pasar Malam telah mendapatkan berbagai penghargaan baik di kancah nasional maupun internasional.[2]

Bukan Pasar Malam merupakan karya fiksi, sebuah roman revolusi. Buku ini sarat akan sindiran terhadap para penguasa yang tidak setia pada ide awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Diceritakan dari sudut pandang orang pertama yaitu ‘Aku’. Tokoh ‘Aku’ ini adalah seorang anak yang ayahnya sakit keras, dan sudah di pintu kematian. Sebagai seorang anak yang bekerja di luar kota, ia pun kembali pulang Blora, Jawa Tengah, ke kota kelahirannya untuk mengucapkan selamat tinggal pada sang ayah. Dari mulai perjalanan hingga akhirnya sampai di Blora, benak tokoh ‘Aku’ dipenuhi oleh berbagai kenangan. Buku ini menceritakan tentang kehilangan, kehilangan tokoh ‘ayah’ yang dulunya begitu hebat, kini semangat masa mudanya pudar. Ayah terkena penyakit TBC, batuk-batuk darah yang menambah miris jalan cerita. Ayahnya adalah pejuang Revolusi Kemerdekaan Indonesia yang terlupakan, terkikis oleh waktu. Beliau menolak untuk menjadi bagian dari pemerintah yang sibuk menumpuk kekayaan dan menambah kekuasannya. Hal ini berimbas pada hidup ayah yang berakhir sedih, beliau tidak dapat masuk ke sanitorium untuk mendapat perawatan kesehatan yang lebih baik. Sanotarioum adalah ‘hak’ pejabat, untuk masuk ke situ sangat sulit.

Buku ini bertema relasi antara ayah-anak, relasi dalam sebuah keluarga yang tinggal di rumah kecil pinggir desa. Bagaimana saat akhir hayatnya relasi ayah dan anaknya menjadi penuh nostalgia dan kesedihan. Nostalgia akan masa di mana sang ayah masih kuat, muda, dan berani. Kesedihan saat melihat keadaan sang ayah yang lemah, tua, dan tampak gelisah menunggu ajal. Pramoedya Ananta Toer mampu menjadikan pembaca roman ini sebagai tokoh yang turut hadir dan berperan dalam plot. Latar belakang Pramoedya Ananta Toer yang lahir dan besar di Blora, Jawa Tengah sangat mendukung penulisan setting novel. Meski novel ini fiktif, Pramoedya mampu menghidupkan novel sehingga terasa nyata. Beliau menceritakan dengan apa adanya, tiada kesan dilebih-lebihkan atau dikurang-kurangi. Pramoedya memang sudah berpengalaman dalam menulis buku bertema roman revolusi, karyanya yang lain Trilogi Bumi Manusia, Larasati sudah membuktikan kelihaiannya dalam bercerita tentang revolusi dari sudut pandang rakyat biasa.

Saya adalah pembaca setia novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer. Jika dibandingkan dengan karyanya yang lain, Bukan Pasar Malam memiliki jalan cerita yang cukup menyedihkan. Saya kira plot cerita dalam novel ini akan lebih ‘bahagia’ karena judulnya Bukan Pasar Malam. Saya salah besar, novel ini seakan menjadi saksi bisu proses seorang anak kehilangan ayahnya. Kehilangan secara fisik, bukan secara rohani. Mengapa begitu? Karena ayahnya dikuburkan, namun kenangan-kenangan dalam benak si anak telah terekam sampai akhirnya ia juga akan meninggal. Bukankah kita hanya manusia yang menumpang hidup di tanah air Indonesia ini? Mestinya hidup itu seperti pasar malam, datang bersama-sama dan pulang bersama-sama. Mengapa kita harus lahir dan mati sendirian? Mengapa tidak bersama-sama saja? Pertanyaan-pertanyan seperti itulah yang muncul saat kita membaca Bukan Pasar Malam.

Bukan Pasar Malam dituliskan dalam EYD lama. Hal ini tidak menjadi penghalang pembaca untuk memahami jalur cerita novel dengan nyaman. Sebagai generasi muda, apa yang dituliskan Pramoedya dalam buku ini masih sangat relevan dalam kehidupan kita sehari-hari. Saat seorang anak sudah dewasa dan bekerja, saat ia nampak sudah mampan dan tidak bergantung pada orang tuanya, ia akan tetap sedih saat sang ayah atau ibu sakit keras dan meninggal. Bagaimana proses seorang anak menerima kematian orang tuanya menjadi inti cerita novel ini. Menurut saya, Bukan Pasar Malam adalah salah satu karya kesusastraan modern Indonesia yang penting karena novel ini memberikan sudut pandang baru dalam hingar bingar Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Sisi lain dari kehidupan masyarakat pada jaman itu, sisi yang lebih personal.

Salah satu ciri khas Pramodya adalah karakterisasi tokoh-tokoh novel yang sangat menarik. Pramoedya menampilkan tokoh Tionghoa, Jawa, dan Belanda. Pramoedya juga memberikan karakterisasi yang lebih personal dengan kadang menyelipkan ideologi tokoh itu, contohnya dalam buku, Pramoedya menuliskan bahawa tokoh ‘ayah’ adalah seorang nasionalis. Bahkan sebelum akhir hayatnya, ia meneriakkan ikrar nasionalisnya, ia juga mengamanatkan pada anak-anaknya agar tidak menyerah pada kenikmatan duniawi, agar mereka tidak korupsi dan tetap jujur dalam mengarungi kehidupan.

Novel karya Pramoedya Ananta Toer ini sarat akan nilai moral, meski secara implisit. Kita disuguhkan beberapa tokoh, tokoh ‘ayah’ yang sederhana namun tidak terkenal dan kurang dihormati karena ia miskin. Di sisi lain, ada tokoh dokter dan pejabat yang berkuasa di desa itu. Keduanya memiliki karakteristik yang bertolak belakang, kita dapat menyimpulkan sendiri mana itu yang baik dan buruk. Mungkin hal inilah yang menjadi salah satu alasan Bukan Pasar Malam sempat dicekal, padahal menurut saya pribadi, buku ini sama sekali tidak berunsur komunis, malah berunsur nasionalis.

Salah satu kelemahan dari novel yang tampak tanpa cela ini adalah terlalu bertele-tele. Pramoedya Ananta Toer tidak secara langsung menampilkan pandangan tokoh utama, melainkan hanya berupa isyarat halus yang kurang jelas orientasinya. Kita sebagai pembaca kadang dibuat bingung oleh pemikiran tokoh utama yang berjalan cepat, secepat jalan cerita. Sebagai pembaca, kita dapat mencoba untuk menginterpretasikan isi novel sesuai imajinasi masing-masing. Tapi, menurut saya, akan lebih baik apabila Pramoedya dapat memberikan jalan pikir tokoh utama yang lebih terarah, agar sesuai dengan jalan cerita novel. Menurut saya, ini bukan kesalahan fatal karena kita dapat menebak dan berimajinasi sendiri tentang jalan pikiran tokoh utama.



Referensi

Toer, Pramoedya Ananta. 2004. Bukan Pasar Malam cetakan kesepeluh. Yogyakarta: Balai Pustaka

Perlez, Jane. 2006. Pramoedya Ananta Toer, 81, Indonesian Novelist, Dies. Diakses dari http://www.nytimes.com/2006/05/01/books/01prem.html pada 5 November 2016.



[1] Perlez, Jane. 2006. Pramoedya Ananta Toer, 81, Indonesian Novelist, Dies. Diakses dari http://www.nytimes.com/2006/05/01/books/01prem.html pada 5 November 2016.
[2] Pramoedya Ananta Toer, 2004. Bukan Pasar Malam cetakan kesepeluh, Yogyakarta: Balai Pustaka, hlm 3